122 Ribu KK Tenggelam, Pemerintah Terlambat Bangun dari Tidur

- Kontributor

Senin, 1 Desember 2025 - 20:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Langkat — METROLANGKAT.COM

Banjir besar yang merendam Kabupaten Langkat dalam beberapa hari terakhir kembali membuka luka lama: pemerintah daerah tidak siap, sistem mitigasi buruk, dan penanganan darurat datang terlambat.

Padahal dampaknya tidak main-main — 122.527 kepala keluarga terendam, dan 11 warga meninggal dunia.

Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi bukti bahwa kegagalan tata kelola bencana kembali menelan korban.

 

Data resmi yang dirilis Diskominfo Langkat per 30 November 2025 menunjukkan rentetan kenyataan pahit itu.

Kecamatan Babalan mencatat 5 korban jiwa, Besitang 6 korban, sementara Tanjung Pura menjadi wilayah terparah dengan 18.629 KK terdampak.

Disusul Stabat (17.270 KK), Secanggang (13.619 KK), dan Babalan (13.523 KK). Ribuan keluarga kini hidup dalam ketidakpastian.

Namun yang paling menyakitkan bukan hanya tingginya banjir — tetapi lambannya negara hadir untuk rakyatnya.

Ketika Air Surut, Kekecewaan Meninggi. Pantauan di lapangan menunjukkan air di beberapa kecamatan memang mulai surut.

Hinai, Tanjung Pura, Gebang, Babalan, Sei Lepan, Brandan Barat, hingga Besitang perlahan kembali terlihat daratannya.

Tetapi di balik itu, warga bertahan dalam kondisi memprihatinkan: minim air bersih, logistik seret, listrik padam, dan bantuan yang datang setetes demi setetes.

Baca Juga :  PW KAMMI Sumut:  Puji Respon Cepat Gubsu Tutup TPL dan Tangani Bencana

Warga Kelurahan Alur Dua, Kecamatan Sei Lepan, mengalami krisis air bersih selama enam hari. Bahan pangan hanya bertahan dari hasil saling berbagi antar korban.

“Semalam ada bantuan, dari relawan. Kalau dari pemerintah baru hari ini masuk. Karena semua terkepung air,” ujar seorang pengungsi di Masjid At-Taqwa.

Sebuah pengakuan jujur yang sekaligus menjadi tamparan keras: relawan lebih cepat dari pemerintah. Drainase Buruk, Mitigasi Nol, Warga Dibuat Korban Berulang

Banjir bukan fenomena baru di Langkat. Tetapi pola buruknya selalu sama: hujan turun, sungai meluap, drainase gagal, dan ribuan keluarga kembali kehilangan rumah. Ironisnya, pemerintah seperti tidak belajar apa pun.

 

Kondisi air pada awal kejadian bahkan mencapai leher orang dewasa, dan di hari kedua nyaris menyentuh bubungan rumah. Ratusan lansia, perempuan, dan anak-anak dievakuasi dalam kondisi memilukan.

 

Warga berharap perbaikan drainase dan infrastruktur sungai dilakukan secara serius. Bukan sekadar janji setelah bencana berlalu.

 

“Sedih lihat anak-anak dan lansia mengungsi seperti ini. Yang sakit sudah dibawa ke rumah sakit tadi malam,” kata seorang warga dengan nada getir.

 

Surat Tanggap Darurat Hanya 7 Hari: Mengapa Begitu Singkat? Pemkab Langkat telah mengeluarkan Surat Keputusan Tanggap Darurat Banjir.

Baca Juga :  Pria Ngamuk Siram Bensin di Kantor Bupati Langkat, Satpol PP Langsung Bertindak Cepat

 

Namun keputusan yang hanya berlaku selama tujuh hari ini justru memunculkan pertanyaan besar: Apa mungkin pemulihan bencana sebesar ini selesai dalam seminggu?

Dengan 122 ribu KK terdampak, rumah rusak, akses jalan hancur, air bersih belum pulih, dan logistik belum stabil, keputusan itu tampak tidak realistis.

Mengapa Pemkab pelit menggelontorkan anggaran bencana di tengah kondisi darurat?

Perpanjangan status tanggap darurat seharusnya menjadi prioritas, agar anggaran negara bisa sepenuhnya digerakkan untuk pemulihan — bukan malah dibatasi oleh hitungan administrasi.

Langkat Perlu Pemerintah yang Tidak Sekadar Hadir Setelah Bencana. Bencana banjir 2025 menjadi alarm keras bagi Pemkab Langkat:

Sistem peringatan dini (early warning) lemah. Mitigasi minim. Drainase tak diperbaiki. Respons darurat lambat. Distribusi bantuan tersendat

Koordinasi basah-kering dengan provinsi dan pusat tidak maksimal. Sebelas nyawa yang hilang bukan sekadar angka.

122 ribu KK yang terendam bukan sekadar data. Ini adalah gagalnya sistem, bukan semata-mata marahnya alam.

Dan selama pemerintah tidak memperbaiki tata kelolanya, bencana seperti ini akan selalu datang kembali, meninggalkan luka yang sama — atau mungkin lebih dalam.(Yong)

Follow WhatsApp Channel www.metrolangkat.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Terima UHC Award Pratama, Program Berobat Gratis Bobby Nasution Diapresiasi Pemerintah Pusat
IJLS Soroti Ketidakjelasan Status PT TPL, Masyarakat Adat Laporkan Dugaan Aktivitas
Gubernur Sumut Terima Donasi Rp.4,7 milyar dari Pemko Batam
Ricky Anthony: KOMBAT Sumut Salurkan 100 Ton Beras dan Terjunkan Relawan Pulihkan Daerah Banjir
Tawa di Tengah Duka, Pemprov Sumut Ajak Pengungsi Tapsel Nobar Film Agak Laen
Gubernur Perpanjang Status Tanggap Darurat Bencana di Sumut Sepekan Kedepan
Remisi Natal 2025 di Lapas Binjai: Dua Warga Binaan Langsung Hirup Udara Bebas”
Pastikan Malam Natal Aman, Wali Kota Medan dan Forkopimda Pantau Gereja
Berita ini 94 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:10 WIB

Terima UHC Award Pratama, Program Berobat Gratis Bobby Nasution Diapresiasi Pemerintah Pusat

Kamis, 22 Januari 2026 - 22:32 WIB

IJLS Soroti Ketidakjelasan Status PT TPL, Masyarakat Adat Laporkan Dugaan Aktivitas

Kamis, 8 Januari 2026 - 20:25 WIB

Gubernur Sumut Terima Donasi Rp.4,7 milyar dari Pemko Batam

Selasa, 30 Desember 2025 - 19:38 WIB

Ricky Anthony: KOMBAT Sumut Salurkan 100 Ton Beras dan Terjunkan Relawan Pulihkan Daerah Banjir

Minggu, 28 Desember 2025 - 10:54 WIB

Tawa di Tengah Duka, Pemprov Sumut Ajak Pengungsi Tapsel Nobar Film Agak Laen

Berita Terbaru

Kabar Desa

Zakiyuddin: Bantuan Mesin Pertanian, Investasi Ketahanan Pangan

Minggu, 1 Feb 2026 - 14:21 WIB

Inspiratif

Mentor Muda Mengajar, Mahasiswa ULB Tebar Harapan di Mentawai

Jumat, 30 Jan 2026 - 21:03 WIB