IJLS Soroti Ketidakjelasan Status PT TPL, Masyarakat Adat Laporkan Dugaan Aktivitas

Metro Langkat

- Jurnalis

Kamis, 22 Januari 2026 - 22:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Paiman Nadeak
Director of Policy Advocacy Institute for Justice, Law and Society (IJLS).(ist)

Jakarta – METROLANGKAT.COM

Paiman Nadeak Director of Policy Advocacy
Institute for Justice, Law and Society (IJLS) menyatakan keprihatinan serius atas ketidakjelasan status hukum dan operasional PT Toba Pulp Lestari (PT TPL).

Di tengah informasi yang beredar bahwa perusahaan tersebut telah ditutup oleh Pemerintah Indonesia,

Masyarakat adat di sekitar wilayah konsesi justru masih melaporkan dugaan kuat adanya aktivitas operasional di lapangan, Rabu (21/1/2026).

Masyarakat adat menyebut hingga kini masih terlihat lalu lintas kendaraan perusahaan,

Aktivitas di area konsesi, serta berbagai kegiatan lain yang diduga berkaitan langsung dengan operasional PT TPL.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang kepastian hukum: jika PT TPL benar-benar telah ditutup, mengapa aktivitas di lapangan masih berlangsung?

Salah seorang warga masyarakat adat Sihaporas mengungkapkan bahwa dugaan aktivitas tersebut bukan sekadar isu

Melainkan disaksikan langsung oleh warga. Ia menyebut kendaraan perusahaan masih keluar-masuk kawasan yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat adat, serta terdapat aktivitas di area hutan dalam wilayah konsesi PT TPL.

Baca Juga :  Cek Pasokan Pangan, Rico Waas Pastikan Harga Sembako di Medan Terkendali

Situasi tersebut menimbulkan keresahan dan kebingungan di tengah komunitas adat.

Di satu sisi, beredar informasi mengenai penutupan PT TPL, namun di sisi lain, jejak aktivitas di lapangan masih tampak nyata.

Menurut warga, selama tidak ada penjelasan resmi dan terbuka dari negara, masyarakat adat Sihaporas merasa hak atas tanah ulayat, ruang hidup, dan rasa aman komunitas mereka terus berada dalam ancaman.

Bagi IJLS, persoalan ini tidak dapat dipandang sebagai masalah administratif semata.

Ketidakjelasan status PT TPL dinilai telah menjelma menjadi krisis kepastian hukum, keadilan ekologis, serta perlindungan hak-hak masyarakat adat.

Sikap negara yang tidak tegas dan minim transparansi berpotensi menjadi bentuk pembiaran terhadap dugaan pelanggaran hukum dan hak asasi manusia.

IJLS menegaskan, apabila penutupan PT TPL telah ditetapkan secara resmi, maka seluruh bentuk aktivitas operasional wajib dihentikan secara total tanpa pengecualian.

Namun, jika masih terdapat izin tertentu, masa transisi, atau kebijakan khusus, pemerintah berkewajiban menyampaikannya secara terbuka, jujur, dan dapat diuji publik, terutama kepada masyarakat adat yang terdampak langsung.

Baca Juga :  Proyek Jalan Rp15 Miliar di Binjai Diduga Bermasalah, Kejari Tetapkan 3 Tersangka Korupsi DBH Sawit!”

Menurut IJLS, ketertutupan informasi dan lemahnya pengawasan negara hanya akan memperdalam konflik struktural antara rakyat dan korporasi,

Memperbesar ketidakpercayaan publik terhadap negara, serta memperparah kerusakan lingkungan dan perampasan ruang hidup masyarakat adat.

Pernyataan Sikap IJLS

IJLS menyatakan sikap sebagai berikut:

Mendesak Pemerintah Indonesia dan kementerian terkait untuk segera memberikan klarifikasi resmi, terbuka, dan akuntabel mengenai status hukum dan operasional PT TPL;

Mendesak aparat penegak hukum melakukan penyelidikan lapangan secara independen dan menyeluruh atas dugaan aktivitas operasional yang masih berlangsung;

Menuntut perlindungan nyata terhadap hak-hak masyarakat adat, termasuk hak atas tanah ulayat, ruang hidup, dan lingkungan hidup yang sehat;

Menolak segala bentuk pembiaran negara terhadap dugaan pelanggaran hukum yang merugikan rakyat dan merusak lingkungan.

IJLS menegaskan bahwa rakyat tidak boleh terus hidup dalam ketidakpastian hukum, sementara korporasi diduga masih menjalankan aktivitasnya.

Transparansi, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat merupakan kewajiban konstitusional negara.

“Jika negara memilih diam, maka suara rakyat akan terus bergerak untuk menuntut keadilan,” tegas IJLS.

Penulis: Arif

.

Follow WhatsApp Channel www.metrolangkat.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Babak Baru !  Jokowi Dijadwal Hadiri Sidang Roy Suryo Sebagai Saksi Pelapor
10 Tahun Rusak, Jalan Rambutan Ujung Binjai Akhirnya Diaspal, Warga Minta Portal Dipasang
Polda Sumut Bongkar Tiga Kasus Narkoba, Sita 244 Kg Sabu dan Amankan 9 Tersangka
PT HK Bayar PBB-P2 Rp15,91 Miliar, Tiorita: Kontribusi untuk Langkat
Bima Arya dan Rico Waas Berbagi Strategi di YCC APEKSI 2026
Rico Waas Kobarkan Semangat Youth City Changers 2026 Bangun Kota Tangguh
Pemprov Sumut Hentikan Aktivitas Tambang Ilegal di Deliserdang dan Sergai, Pengusaha Diminta Urus Izin
Hasil Seleksi 15 Besar Calon Komisioner KI Sumut, Segera Diserahkan ke DPRD
Berita ini 94 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:07 WIB

Babak Baru !  Jokowi Dijadwal Hadiri Sidang Roy Suryo Sebagai Saksi Pelapor

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:53 WIB

10 Tahun Rusak, Jalan Rambutan Ujung Binjai Akhirnya Diaspal, Warga Minta Portal Dipasang

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:29 WIB

Polda Sumut Bongkar Tiga Kasus Narkoba, Sita 244 Kg Sabu dan Amankan 9 Tersangka

Senin, 14 September 2026 - 17:58 WIB

PT HK Bayar PBB-P2 Rp15,91 Miliar, Tiorita: Kontribusi untuk Langkat

Senin, 29 Juni 2026 - 18:16 WIB

Bima Arya dan Rico Waas Berbagi Strategi di YCC APEKSI 2026

Berita Terbaru