foto : Tiga wanita Bugis yang mngenakan busana beling beling kembali dari menunaikan ibadah haji. (ist)
MAKASSAR – metrolangkat.com
Kepulangan jemaah haji Indonesia tahun 2026 diwarnai fenomena unik yang menarik perhatian publik. Sejumlah jemaah asal Sulawesi Selatan, khususnya dari kalangan perempuan, tampil mencolok dengan mengenakan busana bling-bling saat tiba di Tanah Air.
Salah satunya adalah Martati Konsi, jemaah haji Kloter 22 Debarkasi Makassar asal Kabupaten Bone. Penampilannya menjadi sorotan karena mengenakan busana maroon berkilau yang dipenuhi payet, manik-manik, dan bordir mewah saat tiba di Indonesia, Rabu (17/6/2026).
Menariknya, Martati mengaku sengaja mengganti pakaian di dalam pesawat sebelum mendarat. Ia ingin tampil berbeda setelah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.
“Mau tampil glowing jadi ganti pakaian di pesawat,” ujarnya sambil tersenyum.
Untuk tampil maksimal, Martati rela merogoh kocek hingga sekitar Rp5 juta untuk membeli busana tersebut.
“Saya belikan lima juta,” katanya.
Gaun yang dikenakan Martati memiliki detail berkilau yang memantulkan cahaya sehingga terlihat mencolok. Bagian bahunya didesain lebih tegas menyerupai siluet busana adat modern yang memberi kesan elegan dan mewah. Penampilannya semakin lengkap dengan hijab senada serta berbagai aksesori seperti kalung, gelang, cincin, dan anting.
Fenomena serupa juga terlihat pada Sitti Rosmiati, jemaah haji Kloter 3 asal Kabupaten Bone. Bersama dua kerabatnya, Andriani dan Hamsiah Baila, ia mengenakan busana bling-bling seragam saat tiba di kampung halaman.
Menurut Sitti, pakaian tersebut telah dipersiapkan empat hari sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Busana itu sengaja dijahit khusus sebagai identitas keluarga yang berangkat haji bersama.
“Ini disiapkan sendiri, kita jahit. Kita belinya di Sengkang. Kita mau ada ciri khas tersendiri,” ujarnya.
Untuk membuat busana seragam tersebut, mereka juga harus mengeluarkan biaya hingga jutaan rupiah.
Fenomena jemaah haji pulang dengan busana berkilau ini mendapat tanggapan dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Makassar.
Ketua PPIH Debarkasi Makassar, Ikbal Ismail, menegaskan bahwa pihaknya tidak melarang penggunaan busana tersebut karena merupakan bagian dari tradisi masyarakat Bugis-Makassar.
“Pada prinsipnya kami tidak melarang karena itu adalah budaya orang Bugis-Makassar,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar busana yang dikenakan tetap memenuhi kaidah syariat dan menutup aurat dengan baik.
Menurut Ikbal, penggunaan busana khas daerah oleh jemaah yang baru pulang dari Tanah Suci merupakan bentuk pelestarian budaya yang patut diapresiasi.
Namun, nilai budaya tersebut diharapkan tetap berjalan seiring dengan nilai-nilai keagamaan yang menjadi bagian penting dari perjalanan spiritual para jemaah.
Fenomena busana bling-bling saat kepulangan haji sendiri telah menjadi tradisi yang cukup dikenal di kalangan masyarakat Bugis-Makassar.
Selain sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan setelah menunaikan rukun Islam kelima, busana tersebut juga menjadi simbol kebanggaan dan identitas budaya daerah.(jihan/trb)


















