Ketika Cekgu Jadi Ahli Beton, Mengukur Jalan Dengan Pengaris

- Kontributor

Kamis, 25 Desember 2025 - 20:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Terlihat seorang guru memegang pengaris dengan meteran ditangan sedang mengukur jalan.(Ilustrasi)

Tajuk >> Yongganas

Drama politik kembali dipentaskan di Kota Wak Labu. Bukan soal jalan berlubang atau proyek mangkrak—itu cerita lama—melainkan kisah klasik tentang jabatan publik yang kehilangan makna keahlian.

Dalam balutan seragam upacara dan sepatu mengilap, seorang pendidik yang akrab disapa Cekgu resmi dilantik sebagai Kepala Dinas Permukiman dan Tata Ruang (Distarukim).

Sebuah jabatan strategis. Sebuah posisi teknis. Sebuah kursi yang menentukan wajah kota puluhan tahun ke depan.
Namun ironisnya, kursi itu kini diduduki oleh seseorang yang lebih akrab dengan kapur tulis ketimbang gambar teknik.

Publik pun bertanya, setengah heran setengah geli: apakah papan tulis kini bisa diganti dengan papan proyek?
Padahal, urusan permukiman dan tata ruang bukan sekadar administrasi.

Ia adalah jantung pembangunan kota: perencanaan wilayah, pengendalian ruang, drainase, kawasan kumuh, hingga mitigasi bencana.

Semua itu menuntut kompetensi teknis, pengalaman struktural, dan pemahaman regulasi tata ruang.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah secara tegas menyebutkan bahwa pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama harus mempertimbangkan kompetensi, kualifikasi, kepangkatan, pendidikan, dan rekam jejak jabatan.

Baca Juga :  Editorial Yong Ganas : "Adli Tama di Tengah Elite NasDem: Strategi Politik atau Simbol Dukungan Tersirat?"

Prinsipnya jelas: the right man on the right place “menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuan atau keahliannya”  . Bukan the right family on the right chair “keluarga yang tepat di kursi yang tepat”.
Masalahnya, Cekgu bukan hanya guru. Ia juga besan Ketua Parlement.

Maka, dugaan pun bersemi seperti rumput liar di lahan kosong: apakah ini kebetulan administratif, atau kelanjutan silaturahmi struktural?

“Di Wak Labu, ijazah bukan syarat utama, yang penting ijab kabul,” sindir seorang pengamat politik lokal. Satir, tapi menohok. Sebab praktik semacam ini bukan hal baru.

Ia hanya berganti aktor, berganti panggung, namun naskahnya sama: nepotisme berkedok kepercayaan.
Dampaknya tidak sepele.

Ketika jabatan teknis diisi oleh mereka yang bukan ahlinya, maka pembangunan rawan berjalan asal jadi. Jalan terlihat lurus di dokumen, tapi berliku di lapangan.

Baca Juga :  "Gugurnya Dukungan di Negeri Kelayau"

Drainase tampak rapi di slide presentasi, tapi lumpuh saat hujan turun. Tata ruang indah di peta, namun kacau di kenyataan.

Akhirnya, rakyat yang menanggung akibat. Bukan elit yang berfoto saat pelantikan. Tajuk ini bukan ajakan untuk meremehkan profesi guru.

Justru sebaliknya. Guru adalah pilar peradaban. Tapi justru karena itu, biarkan guru tetap mulia di ruang kelas, bukan dijebak dalam jabatan teknis yang bukan dunianya.

Redaksi Tajuk percaya pada solusi sederhana namun bermartabat: kembalikan jabatan pada ahlinya. Biarkan guru mendidik. Biarkan insinyur membangun. Biarkan perencana menata kota.

Dan biarkan politisi berdebat di ruang politik, bukan menyelipkan keluarga ke ruang birokrasi. Sebab kota tidak dibangun dengan kedekatan, melainkan dengan kompetensi. Dan masa depan Wak Labu terlalu mahal untuk dipertaruhkan demi silaturahmi kekuasaan.(**)

Follow WhatsApp Channel www.metrolangkat.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wartawan “Rinso”: Saat Pena Tak Lagi Mencuci Kebenaran
Smart Board Rp50 Miliar, Siapa Otak di Balik Proyek Gila Ini 
“BUMD Langkat Dibajak? Publik Dipaksa Telan Proses Busuk”
Editorial Yong Ganas : Vonis Bebas Untuk Eka Depari…..
Editorial Yong Ganas : “Mimpi Aidil Ilham Lubis: Anak Bangsa yang Ingin Melawan Kutukan Orang Dalam”
Negeri Kelayau dan Raja Kejab Boh: Hikayat Sebuah Kekuasaan
Gembira Ginting Lawan Fitnah, Selamatkan Pendidikan
“Langkat Bergejolak: Dosa Lama yang Belum Selesai atau Badai Baru yang Sengaja Ditiup?”
Berita ini 154 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 25 Desember 2025 - 20:32 WIB

Ketika Cekgu Jadi Ahli Beton, Mengukur Jalan Dengan Pengaris

Minggu, 19 Oktober 2025 - 19:17 WIB

Wartawan “Rinso”: Saat Pena Tak Lagi Mencuci Kebenaran

Sabtu, 13 September 2025 - 12:02 WIB

Smart Board Rp50 Miliar, Siapa Otak di Balik Proyek Gila Ini 

Rabu, 23 Juli 2025 - 20:00 WIB

“BUMD Langkat Dibajak? Publik Dipaksa Telan Proses Busuk”

Sabtu, 12 Juli 2025 - 08:51 WIB

Editorial Yong Ganas : Vonis Bebas Untuk Eka Depari…..

Berita Terbaru

Inspiratif

Mentor Muda Mengajar, Mahasiswa ULB Tebar Harapan di Mentawai

Jumat, 30 Jan 2026 - 21:03 WIB

Berita

Wabup Langkat Hadiri Konsultasi Publik RKPD Sumut 2027

Jumat, 30 Jan 2026 - 12:29 WIB