Diduga Malapraktik di RSUD Djoelham Binjai, Pasien Meninggal Saat Cuci Darah

- Kontributor

Jumat, 28 Februari 2025 - 07:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Binjai – metrolangkat.com

Dugaan malapraktik kembali mencuat di Kota Binjai, kali ini terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) DR Djoelham Binjai, yang berlokasi di Kelurahan Satria, Kecamatan Binjai Kota. Kasus ini menjadi perbincangan hangat setelah viral di media sosial.

Korban dalam kejadian ini adalah Rantam Br Ketaren (75), yang menjalani prosedur cuci darah di ruang Hemodialisa RSUD DR Djoelham.

Menurut keterangan keluarganya, peristiwa tragis ini terjadi saat korban menjalani cuci darah untuk kedua kalinya pada 15 Februari 2025.

“Ibu saya pertama kali menjalani cuci darah pada 12 Februari, lalu cuci darah kedua pada 15 Februari.

Tiopan Tarigan anak korban saat memberikan keterangan kepada wartawan.(ist)

Namun, setelah prosedur itu, ibu saya meninggal dunia,” ungkap Tiopan Tarigan SH, anak korban yang juga berprofesi sebagai advokat, saat dikonfirmasi pada Kamis (27/2).

Kematian yang Janggal

Tiopan mengaku sempat meninggalkan rumah sakit untuk membeli perbekalan ibunya di Pasar Kaget Binjai.

Namun, tiba-tiba ia mendapat telepon dari kakaknya yang menangis histeris dan mengabarkan bahwa sang ibu telah meninggal dunia.

Baca Juga :  Mengenal Lebih Dekat Profesi Bidan Indonesia: Peran Penting dalam Kesehatan Bangsa

Saat tiba kembali di rumah sakit, Tiopan melihat sebuah mobil pemadam kebakaran sudah berada di lokasi.

Ia juga menyaksikan petugas pemadam memasukkan selang air ke dalam ruang Hemodialisa.

“Ketika saya masuk, saya melihat dada ibu saya ditekan-tekan oleh petugas medis. Saya juga mendengar salah satu dari mereka mengatakan bahwa ibu saya sudah meninggal dunia.

Yang membuat saya terkejut, di mesin HD (Hemodialisa) ada tulisan ‘No Water’, alarm berbunyi, dan lampu merah berkedip,” bebernya.

Saat Tiopan menanyakan kondisi tersebut kepada petugas medis, ia mendapat jawaban yang semakin membuatnya curiga.

“Ada yang mengatakan, ‘kan sudah ada pemadam kebakaran, lagi diisi, Pak’. Dari situ saya mulai berpikir, apakah ibu saya meninggal karena kekurangan air saat proses cuci darah?” tuturnya.

 

Menuntut Klarifikasi dari RSUD Djoelham

Merasa ada kejanggalan, Tiopan mencoba mencari informasi lebih lanjut, termasuk melalui aplikasi Meta AI, yang menyebutkan bahwa kekurangan air dalam proses cuci darah dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian.

Baca Juga :  Tiopan Tarigan Tuntut Keadilan Atas Dugaan Malapraktik di RSUD Djoelham Binjai

“Hingga saat ini, saya terus bertanya-tanya, apakah ibu saya meninggal karena kekurangan air saat cuci darah? Sejak kejadian pada 15 Februari, saya sudah meminta klarifikasi dari pihak rumah sakit, baik dari humas maupun direktur.

Namun, hingga kini saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan,” ungkapnya.

Selain itu, Tiopan juga menyoroti beberapa aspek pelayanan di RSUD Djoelham, seperti:

Akses lift untuk keluarga pasien dibatasi hanya sampai pukul 18.00 WIB.

Pencahayaan di beberapa bagian rumah sakit yang remang-remang dan tidak layak.

Kualitas air di kamar mandi rumah sakit yang keruh dan berbau.

Akan Menempuh Jalur Hukum?

Saat ditanya apakah akan membawa kasus ini ke ranah hukum, Tiopan menyatakan masih menunggu itikad baik dari pihak rumah sakit dalam 2-3 hari ke depan sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

Sementara itu, awak media masih berupaya mendapatkan konfirmasi dari pihak RSUD DR Djoelham Binjai, namun hingga berita ini diterbitkan, beberapa petugas rumah sakit masih memilih bungkam terkait insiden ini.(kus)

 

 

Follow WhatsApp Channel www.metrolangkat.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengenal Lebih Dekat Profesi Bidan Indonesia: Peran Penting dalam Kesehatan Bangsa
Perkuat Layanan Terapi Sel, OG Hospital Gandeng RSPAD Gatot Soebroto
Lima Dokter Specialias Disekolahkan , RSUD Nias Barat Naik Kelas
Wabup Tiorita Hadiri Capping Day Akbid Langkat, 27 Mahasiswa Resmi Kenakan Cap
Rp7 Triliun Warga Sumut Berobat ke Luar Negeri, Bobby Nasution Tantang RS Tingkatkan Layanan
Cegah PMK Jelang Idul Fitri dan Kurban, Pemko Binjai Vaksin 158 Sapi
Wabup Langkat Buka Workshop Integrasi Data Program Sehati Bunda
“Kapus Pematang Cengal Diduga 4 Tahun Jalankan Pungli Sistematis
Berita ini 651 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 6 Maret 2026 - 19:57 WIB

Mengenal Lebih Dekat Profesi Bidan Indonesia: Peran Penting dalam Kesehatan Bangsa

Jumat, 27 Februari 2026 - 11:10 WIB

Perkuat Layanan Terapi Sel, OG Hospital Gandeng RSPAD Gatot Soebroto

Kamis, 12 Februari 2026 - 20:08 WIB

Lima Dokter Specialias Disekolahkan , RSUD Nias Barat Naik Kelas

Kamis, 12 Februari 2026 - 18:21 WIB

Wabup Tiorita Hadiri Capping Day Akbid Langkat, 27 Mahasiswa Resmi Kenakan Cap

Selasa, 10 Februari 2026 - 14:17 WIB

Rp7 Triliun Warga Sumut Berobat ke Luar Negeri, Bobby Nasution Tantang RS Tingkatkan Layanan

Berita Terbaru