Israel – metrolangkat.com
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan penolakannya terhadap pembentukan negara Palestina
Sebelum Dewan Keamanan PBB dijadwalkan memberikan suara atas rancangan resolusi buatan Amerika Serikat yang membuka peluang kemerdekaan Palestina dalam kerangka rencana perdamaian Gaza.
Dalam rapat kabinet pada Minggu (16/11), Netanyahu menegaskan bahwa posisi Israel “tidak berubah sedikit pun” terkait penolakan negara Palestina.
Ia menilai kehadiran negara tersebut justru akan menguatkan Hamas dan menciptakan ancaman baru di perbatasan Israel.
Netanyahu juga menyebut dirinya telah menggagalkan upaya menuju negara Palestina selama bertahun-tahun dan tidak akan tunduk pada tekanan internasional.
“Saya tidak membutuhkan ceramah siapa pun,” tegasnya, dikutip dari AFP, Senin (18/11).
Rancangan resolusi Amerika Serikat muncul setelah tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang difasilitasi Presiden Donald Trump.
Dokumen tersebut mencakup:
penempatan pasukan keamanan internasional sementara,
dan—untuk pertama kalinya—membuka kemungkinan berdirinya negara Palestina di masa depan.
Poin terakhir itulah yang langsung ditolak keras oleh pemerintah Israel.
Penolakan Netanyahu juga diperkuat tekanan dari sekutu koalisinya di pemerintahan:
Bezalel Smotrich (Menteri Keuangan) mendesak Netanyahu menyatakan sikap tegas bahwa Israel tidak akan pernah menerima negara Palestina.
Yoav Gallant / Israel Katz (Menteri Pertahanan) menegaskan bahwa kebijakan Israel “jelas: tidak akan ada negara Palestina.”
Gideon Saar (Menteri Luar Negeri) menuduh rencana negara Palestina sebagai “negara teror”.
Itamar Ben Gvir (Menteri Keamanan Nasional) bahkan menyebut identitas Palestina sebagai “penemuan”.
Penolakan Israel semakin mengeras setelah beberapa negara Barat—termasuk Inggris, Australia, dan Kanada—secara resmi mengakui negara Palestina pada September lalu.
Netanyahu menyebut pengakuan itu sebagai “hadiah untuk Hamas” di tengah perang Gaza yang masih berlangsung.
Tahap pertama gencatan senjata menghasilkan pembebasan 20 sandera Israel serta hampir seluruh jenazah 28 sandera yang telah tewas.
Sebagai imbalannya, Israel membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina dan mengembalikan sekitar 330 jenazah.(Kus)
















