Tangis di Balik Reruntuhan Mushola Al Khoziny: Doa Santri Terhenti di Tengah Sujud

- Kontributor

Selasa, 7 Oktober 2025 - 16:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan gambar : Pencarian korban reruntuhan Musholla telahpun berahir. Tak adalagi alat berat yang bekerja. Petugas juga telah menghentikan mesin alat berat.(Fb)

i

Keterangan gambar : Pencarian korban reruntuhan Musholla telahpun berahir. Tak adalagi alat berat yang bekerja. Petugas juga telah menghentikan mesin alat berat.(Fb)

Sidoarjo – METROLANGKAT.COM

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika deru alat berat berhenti di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Debu sisa reruntuhan mushola yang ambruk dini hari itu masih menggantung di udara. Kini, yang tersisa hanyalah keheningan dan aroma tanah yang bercampur air mata.

Di atas tanah yang telah diratakan itu, 61 jenazah telah ditemukan—anak-anak muda, para santri yang semestinya tengah mempersiapkan diri menjadi penerus bangsa dan agama. Dari jumlah itu, tujuh potongan tubuh masih dalam proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim.

“Operasi SAR resmi kami tutup setelah memastikan tak ada lagi korban di bawah reruntuhan,” ujar Kepala Basarnas Surabaya, Arif Nugroho, dengan suara berat saat memimpin apel penutupan dini hari tadi. “Namun, bagi kami para penyelamat, pekerjaan seperti ini tak pernah benar-benar selesai. Ada beban emosional yang tertinggal.”

Sejak malam kejadian, lebih dari 200 personel gabungan dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, dan relawan bahu membahu menyingkirkan puing beton. Mereka bekerja tanpa jeda, diterangi sorot lampu alat berat dan doa dari warga sekitar.

“Kami mendengar suara takbir dan istighfar dari balik puing ketika baru mulai evakuasi,” kenang Rizal (27), seorang relawan SAR. “Tapi makin lama, suara itu hilang… berganti hening. Itu hal paling berat yang pernah saya rasakan.”

Baca Juga :  "Menangis Haru, Zuraidah Akhirnya Terima Dana Pensiun Setelah 5 Tahun"

Suasana duka menyelimuti pesantren. Di halaman belakang, sejumlah keluarga korban masih bertahan, menunggu kabar dari tim identifikasi. Di antara mereka, Siti Mariam (43), ibu dari seorang santri bernama Zulfan, masih menggenggam sajadah berwarna hijau pudar yang ditemukan petugas.

“Dia selalu bilang ingin jadi ustaz. Malam itu dia sempat video call, minta doa supaya hafal juz baru,” ujar Mariam dengan mata sembab. “Saya tak sangka itu percakapan terakhir kami. Sekarang yang tersisa cuma sajadah ini.”

Menurut data posko darurat, total korban sebanyak 165 jiwa. Dari jumlah itu, 104 orang dinyatakan selamat, termasuk empat yang masih dalam perawatan di rumah sakit karena luka berat. Sementara 61 orang meninggal dunia, 17 di antaranya telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan ke pihak keluarga.

Pihak pesantren pun masih berduka. KH. Fathurrahman, pimpinan Pondok Pesantren Al Khoziny, tak mampu menahan tangis saat ditemui wartawan.
“Ini bukan hanya kehilangan bangunan, tapi kehilangan anak-anak kami,” katanya dengan suara parau. “Mereka bukan sekadar santri. Mereka keluarga kami. Setiap nama yang kami sebut di daftar korban, terasa seperti menyebut anak sendiri.”

Baca Juga :  Tangis Haru Waringin dan Sunarti: Rumah Baru Berkat Bantuan Adli Tama Hidayat Sembiring

Meski mushola telah menjadi puing, semangat gotong royong masyarakat sekitar tak ikut runtuh. Para warga tetap berdatangan membawa air minum, makanan, dan doa. “Kami ingin pondok ini berdiri lagi,” ujar Pak Ahmad, warga sekitar. “Biar doa-doa anak-anak itu terus hidup di sini.”

Kini, lokasi kejadian telah disterilkan. Dinas Kesehatan Sidoarjo bersama Pusat Krisis Kesehatan memulai proses disinfeksi dan pembersihan agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Fase pemulihan dan rekonstruksi akan segera dimulai. Namun luka di hati para santri yang selamat, keluarga korban, dan masyarakat masih jauh dari kata pulih.

Malam ini, di tempat yang dulu berdiri megah Mushola Al Khoziny, hanya terdengar desiran angin dan suara ayat suci dari pengeras suara kecil yang tersisa. Seolah para santri yang telah pergi masih melantunkan doa—melanjutkan bacaan yang terhenti di tengah sujud.

“Allah memanggil mereka di tempat paling mulia, di saat paling khusyuk,” ujar seorang ustaz muda, menatap langit yang mulai cerah. “Kita yang ditinggalkan, tugasnya menjaga cahaya itu tetap menyala.(Red)

Follow WhatsApp Channel www.metrolangkat.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kebun Pendidikan Diduga Jadi Bisnis, Hak Pakai USU di Langkat Masuk Bidik Sanksi
Warga Tak Pernah Diganti Rugi, Hak Pakai USU 300 Hektare Dipersoalkan
Air Mata Ibu Dedek Pecah Saat BAZNAS dan Camat Gebang Janjikan Rumah Layak Huni**
Warga Desa Salahaji Bersyukur Dibantu Starlink: “Terima Kasih Pak Bupati Langkat”
684 Istri Gugat Cerai di Binjai Sepanjang 2025, Judol dan Narkoba Dominan
Tembus Lumpur dan Sungai, Relawan Antar Harapan ke Korban Bencana Aceh Tamiang
Camat Binjai Barat dan DPRD Tinjau Lokasi Banjir di Bandar Sinembah
Pembunuhan di Buluh Telang Terungkap, Polisi Amankan Mantan Abang Ipar Korban
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 13:53 WIB

Kebun Pendidikan Diduga Jadi Bisnis, Hak Pakai USU di Langkat Masuk Bidik Sanksi

Sabtu, 24 Januari 2026 - 13:19 WIB

Warga Tak Pernah Diganti Rugi, Hak Pakai USU 300 Hektare Dipersoalkan

Kamis, 8 Januari 2026 - 06:49 WIB

Air Mata Ibu Dedek Pecah Saat BAZNAS dan Camat Gebang Janjikan Rumah Layak Huni**

Selasa, 30 Desember 2025 - 14:30 WIB

Warga Desa Salahaji Bersyukur Dibantu Starlink: “Terima Kasih Pak Bupati Langkat”

Rabu, 24 Desember 2025 - 16:41 WIB

684 Istri Gugat Cerai di Binjai Sepanjang 2025, Judol dan Narkoba Dominan

Berita Terbaru

Kabar Desa

Zakiyuddin: Bantuan Mesin Pertanian, Investasi Ketahanan Pangan

Minggu, 1 Feb 2026 - 14:21 WIB

Inspiratif

Mentor Muda Mengajar, Mahasiswa ULB Tebar Harapan di Mentawai

Jumat, 30 Jan 2026 - 21:03 WIB