Binjai – metrolangkat.com
Sekitar 100 orang yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa bersama Forum Pedagang Kaki Lima (PKL) Kota Binjai menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Binjai, Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Binjai Kota, Senin (27/4) sekitar pukul 10.00 WIB.
Aksi ini dipicu kekecewaan mendalam para pedagang kaki lima yang sebelumnya digusur dari kawasan Jalan Bandung dan Jalan Olahraga oleh Satpol PP Kota Binjai.
Dengan menggunakan mobil pick up dan sepeda motor, massa datang membawa pengeras suara, spanduk besar, serta karton berisi tuntutan. Mereka juga mengibarkan bendera Merah Putih sebagai simbol perlawanan.

Tulisan-tulisan bernada keras terpampang di spanduk, di antaranya:
“Rakyat kecil disembelih pemimpin zalim”, “Wali Kota anti rakyat”, hingga “Kami tidak butuh perda, kami butuh makan.”
Salah satu orator, Edward Gurki, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk protes atas janji kampanye Wali Kota Binjai yang dinilai tidak ditepati.
“Janji Pilkada akan memperjuangkan hak pedagang, tapi hari ini tidak terbukti. Itu bohong semua,” tegasnya.
Ia menambahkan, para pedagang hanya berusaha mencari nafkah untuk keluarga, namun justru menjadi sasaran penertiban.
Orator lainnya, Windi Tanjung, memastikan aksi tersebut murni suara rakyat tanpa campur tangan pihak lain.
“Kami tidak ditunggangi siapa pun. Saya bahkan dulu ikut memenangkan Amir Hamzah.
Tapi hari ini kami kecewa, janji membela UMKM ternyata hanya omong kosong,” ujarnya.
Di tengah aksi, seorang pedagang bernama Firman mengungkapkan harapannya agar Wali Kota bersedia menemui massa, meski hanya beberapa menit.
“Kami bukan teroris. Kami siap ditata. Tapi tolong temui kami. Sudah 25 hari kami tidak berjualan, bagaimana nasib keluarga kami,” ucapnya dengan suara lirih.
Namun, harapan tersebut tidak terpenuhi. Ketidakhadiran Wali Kota memicu emosi massa.
Situasi memanas ketika terjadi aksi dorong-dorongan antara pengunjuk rasa dengan aparat Satpol PP dan kepolisian yang berjaga di pintu gerbang kantor Wali Kota.
Massa menolak perwakilan pejabat Pemko Binjai yang diutus untuk berdialog, dan tetap menuntut kehadiran langsung Wali Kota.
“Kami tidak mau perwakilan. Kami mau Wali Kota!” teriak massa.
Puncak kericuhan terjadi saat massa merobohkan dua pintu gerbang Kantor Pemko Binjai hingga runtuh.
Dengan emosi memuncak, mereka kemudian menerobos masuk ke halaman kantor.
Dalam aksinya, massa juga menyoroti dugaan ketimpangan penegakan hukum.
“Kenapa barak narkoba tidak digusur, tapi kami yang cari makan malah ditertibkan?” teriak massa.
Hingga pukul 11.40 WIB, para pengunjuk rasa masih bertahan di halaman Kantor Pemko Binjai.
Belum ada keterangan resmi dari pihak Pemerintah Kota Binjai terkait tuntutan tersebut.(kus/red)


















