Langkat Tersisih di Peta Wisata: Alarm Keras untuk Disparbud yang Terlena

- Kontributor

Kamis, 9 April 2026 - 15:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Langkat Tidak Kekurangan Alam, Tapi Kekurangan Keseriusan.(Ist)

Langkat – metrolangkat.com

Kabupaten Langkat kembali menelan pil pahit. Di tengah kekayaan alam yang luar biasa—dari Bukit Lawang hingga bentang pesisir dan gua eksotis—nama Langkat justru tak masuk dalam daftar daerah tujuan wisata yang diminati wisatawan di Sumatera Utara.

Data terbaru menunjukkan, selama periode Lebaran 2026 saja, jumlah kunjungan wisatawan ke Sumatera Utara mencapai sekitar 360 ribu orang.

Namun ironisnya, arus wisatawan itu justru terkonsentrasi di daerah lain seperti Samosir (86 ribu lebih), Binjai, Serdang Bedagai hingga Medan—sementara Langkat nyaris tak terdengar kontribusinya.

Ini bukan sekadar soal “tidak masuk nominasi”, tapi soal ketertinggalan yang semakin nyata.

Kondisi ini sontak memantik gelombang kekecewaan. Laman Facebook metrolangkat.com dibanjiri komentar pedas dari pelaku dan pegiat wisata yang selama ini berjuang “sendirian” menjaga denyut pariwisata di Bumi Amir Hamzah.

Salah satu pelaku wisata, Mis Bakti, menyebut kondisi ini “sangat menyedihkan”.

Ia menggambarkan bagaimana pelaku usaha harus bertahan di tengah kerasnya persaingan dengan destinasi unggulan seperti Danau Toba dan Berastagi, sementara dukungan infrastruktur di Langkat masih jauh dari kata layak.

Listrik yang kerap bermasalah hingga memaksa pelaku usaha mengeluarkan biaya tambahan, menjadi bukti nyata lemahnya dukungan dasar pemerintah.

Lebih ironis lagi, berbagai aspirasi yang disebut sudah berulang kali disampaikan kepada Dinas Pariwisata Langkat, baik formal maupun informal, seolah tak pernah benar-benar ditindaklanjuti.

Ini menunjukkan adanya kebuntuan komunikasi—atau lebih parah, ketidakpedulian.

Komentar lain bahkan lebih tajam. Berawijaya Meliala secara terang menyindir bahwa persoalan bukan pada penilaian, melainkan pada tata kelola.

Ia menyinggung dugaan kebocoran retribusi, pengelolaan yang tidak transparan, hingga kondisi destinasi yang kotor, semrawut, dan minim fasilitas dasar seperti tempat pembuangan sampah.

Nada serupa disampaikan Datoek Badren yang menilai Langkat semakin tertinggal akibat mentalitas birokrasi yang diduga sarat praktik korupsi dan kepentingan sempit.

Kritik ini memang keras, namun mencerminkan akumulasi kekecewaan publik yang sudah lama terpendam.

Sementara itu, komentar lain menyoroti persoalan klasik: pungutan liar, ketidaknyamanan wisatawan, serta minimnya perhatian terhadap kebersihan dan penataan kawasan wisata.

Baca Juga :  Honor Tak Dibayar! Dinas Pariwisata Langkat Dinilai Abaikan Kewajiban ke Sanggar Tari

Masalah Utama: Bukan Potensi, Tapi Pengelolaan

Jika ditarik benang merah, persoalan pariwisata Langkat bukan terletak pada minimnya potensi, melainkan buruknya pengelolaan. Ini mencakup:

Infrastruktur yang tidak mendukung (jalan, listrik, fasilitas umum)

Minimnya event dan promosi berskala besar

Pengelolaan destinasi yang amburadul dan tidak standar

Dugaan kebocoran dan tidak transparannya retribusi

Tidak adanya roadmap pariwisata yang jelas dan berkelanjutan

Tanpa pembenahan serius, Langkat hanya akan menjadi “penonton” di tengah geliat pariwisata Sumatera Utara yang terus melaju.

Saran untuk Pemkab Langkat dan Disparbud

Kritik tanpa solusi adalah sia-sia. Karena itu, ada beberapa langkah konkret yang seharusnya segera dilakukan:

1. Benahi Infrastruktur Dasar

Jangan bicara pariwisata kelas dunia jika listrik masih padam dan akses jalan rusak. Koordinasi lintas OPD harus diperkuat.

2. Transparansi dan Digitalisasi Retribusi

Tutup celah kebocoran dengan sistem pembayaran digital dan audit berkala. Kepercayaan publik harus dipulihkan.

3. Penataan Destinasi Wisata

Tertibkan bangunan liar, sediakan fasilitas standar (toilet, tempat sampah, area parkir), dan jaga kebersihan secara konsisten.

4. Libatkan Pelaku Wisata Lokal

Jangan berjalan sendiri. Rangkul komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat lokal sebagai mitra strategis.

5. Ciptakan Event Rutin Berskala Nasional/Internasional

Bukit Lawang dan destinasi lain harus “hidup”, bukan hanya ramai saat musim liburan.

6. Evaluasi Kinerja Dinas Pariwisata

Jika perlu, lakukan pembenahan internal. Pariwisata butuh kepemimpinan yang progresif, bukan sekadar administratif.

Penutup

Langkat tidak kekurangan keindahan. Yang kurang adalah keseriusan mengelola.

Jika pemerintah daerah—khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan—masih abai, maka jangan heran jika Langkat terus tersisih.

Ini bukan sekadar soal pariwisata, tapi soal wajah daerah dan masa depan ekonomi masyarakatnya. Saatnya berhenti beralasan. Saatnya bekerja nyata.

PAD Pariwisata Langkat: Potensi Besar, Hasil Kecil

Jika dibandingkan dengan daerah lain, kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata Langkat masih jauh dari optimal.

Sebagai perbandingan:Kabupaten Samosir mampu menghasilkan PAD pariwisata hingga miliaran rupiah setiap tahun, bahkan mencapai lebih dari Rp5 miliar pada 2024.

Baca Juga :  Gubernur Sumut Dorong KTNA Perkuat Ketahanan Pangan Daerah

Bahkan dalam hitungan hari libur, retribusi wisata Samosir bisa tembus miliaran rupiah.

Sementara Langkat—yang memiliki destinasi kelas internasional seperti Bukit Lawang—justru belum mampu menunjukkan capaian PAD yang signifikan dan transparan ke publik.

Ini menimbulkan pertanyaan besar:
ke mana sebenarnya potensi uang dari sektor wisata Langkat mengalir?

Kritik publik di media sosial bahkan secara terang menyinggung dugaan:
kebocoran retribusi pengelolaan oleh pihak ketiga yang tidak transparan
hingga minimnya kontribusi nyata ke kas daerah

Jika ini dibiarkan, maka pariwisata hanya menjadi “ladang ekonomi liar”, bukan sumber PAD yang sehat.

Saran untuk Pemkab Langkat

Jika tidak ingin terus tertinggal, ada langkah yang harus segera dilakukan—bukan sekadar wacana:

1. Audit Total Pengelolaan Pariwisata

Buka data PAD sektor wisata secara transparan. Jika ada kebocoran, segera tindak.

2. Benahi Infrastruktur Prioritas

Bukit Lawang sebagai destinasi internasional seharusnya jadi wajah utama—bukan malah dibiarkan dengan listrik bermasalah dan akses terbatas.

3. Hentikan Pola “Seremonial Tanpa Dampak”

Pariwisata bukan sekadar rapat dan kegiatan formal. Yang dibutuhkan adalah program nyata dan berkelanjutan.

4. Libatkan Pelaku Wisata Lokal

Mereka yang bertahan selama ini adalah aset. Jangan hanya dijadikan objek, tapi mitra.

5. Bangun Event Ikonik Langkat

Tanpa event besar, wisata akan mati. Langkat butuh kalender event tetap.

6. Perkuat Pengawasan di Lapangan

Hilangkan pungli, tata kawasan, dan pastikan wisatawan merasa aman dan nyaman.

Penutup: Langkat Tidak Kekurangan Alam, Tapi Kekurangan Keseriusan

Langkat memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi destinasi unggulan. Tapi tanpa pengelolaan yang benar, semua itu hanya akan menjadi potensi yang terpendam.

Fakta bahwa ratusan ribu wisatawan datang ke Sumut—namun tidak singgah ke Langkat—adalah tamparan keras.

Jika Disparbud dan Pemkab Langkat masih gagal membaca situasi ini, maka satu hal yang pasti:

Langkat akan terus tertinggal, bukan karena miskin potensi, tapi karena miskin pengelolaan.(Yong)

Follow WhatsApp Channel www.metrolangkat.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gubernur Sumut Dorong KTNA Perkuat Ketahanan Pangan Daerah
Kayu Berlambang Kemenhut RI Tercecer di Pantai Lampung, Tongkang Menghilang
Afandin Dorong Legalitas Sumur Rakyat, Langkat Bersiap Jadi Daerah Model Energi Mandiri
Dua Kukang Sumatra Dilepasliarkan ke Taman Nasional Gunung Leuser
Pemkab Langkat Gelar Pelatihan Digital Gratis untuk UMKM
Polres Langkat Dukung Ketahanan Pangan dengan Program Perkarangan Pangan Lestari
Mentan Amran Ajak Milenial jadi Petani, Penghasilan Bisa Lebih dari Rp10 Juta per Bulan
Adli Tama : KPH Mangrove Gebang Jadi Contoh Peningkatan Ekonomi Berbasis Pelestarian Alam
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 9 April 2026 - 15:06 WIB

Langkat Tersisih di Peta Wisata: Alarm Keras untuk Disparbud yang Terlena

Selasa, 10 Februari 2026 - 22:09 WIB

Gubernur Sumut Dorong KTNA Perkuat Ketahanan Pangan Daerah

Rabu, 10 Desember 2025 - 07:28 WIB

Kayu Berlambang Kemenhut RI Tercecer di Pantai Lampung, Tongkang Menghilang

Jumat, 10 Oktober 2025 - 13:42 WIB

Afandin Dorong Legalitas Sumur Rakyat, Langkat Bersiap Jadi Daerah Model Energi Mandiri

Selasa, 9 September 2025 - 13:43 WIB

Dua Kukang Sumatra Dilepasliarkan ke Taman Nasional Gunung Leuser

Berita Terbaru

Kabar Negeri

Ganti Rugi Dibayar, Eksekusi Mandek: Satu Rumah Jadi Sorotan

Kamis, 9 Apr 2026 - 17:53 WIB