Foto : Langkat Tidak Kekurangan Alam, Tapi Kekurangan Keseriusan.(Ist)
Langkat – metrolangkat.com
Kabupaten Langkat kembali menelan pil pahit. Di tengah kekayaan alam yang luar biasa—dari Bukit Lawang hingga bentang pesisir dan gua eksotis—nama Langkat justru tak masuk dalam daftar daerah tujuan wisata yang diminati wisatawan di Sumatera Utara.
Data terbaru menunjukkan, selama periode Lebaran 2026 saja, jumlah kunjungan wisatawan ke Sumatera Utara mencapai sekitar 360 ribu orang.
Namun ironisnya, arus wisatawan itu justru terkonsentrasi di daerah lain seperti Samosir (86 ribu lebih), Binjai, Serdang Bedagai hingga Medan—sementara Langkat nyaris tak terdengar kontribusinya.
Ini bukan sekadar soal “tidak masuk nominasi”, tapi soal ketertinggalan yang semakin nyata.
Kondisi ini sontak memantik gelombang kekecewaan. Laman Facebook metrolangkat.com dibanjiri komentar pedas dari pelaku dan pegiat wisata yang selama ini berjuang “sendirian” menjaga denyut pariwisata di Bumi Amir Hamzah.
Salah satu pelaku wisata, Mis Bakti, menyebut kondisi ini “sangat menyedihkan”.
Ia menggambarkan bagaimana pelaku usaha harus bertahan di tengah kerasnya persaingan dengan destinasi unggulan seperti Danau Toba dan Berastagi, sementara dukungan infrastruktur di Langkat masih jauh dari kata layak.
Listrik yang kerap bermasalah hingga memaksa pelaku usaha mengeluarkan biaya tambahan, menjadi bukti nyata lemahnya dukungan dasar pemerintah.
Lebih ironis lagi, berbagai aspirasi yang disebut sudah berulang kali disampaikan kepada Dinas Pariwisata Langkat, baik formal maupun informal, seolah tak pernah benar-benar ditindaklanjuti.
Ini menunjukkan adanya kebuntuan komunikasi—atau lebih parah, ketidakpedulian.
Komentar lain bahkan lebih tajam. Berawijaya Meliala secara terang menyindir bahwa persoalan bukan pada penilaian, melainkan pada tata kelola.
Ia menyinggung dugaan kebocoran retribusi, pengelolaan yang tidak transparan, hingga kondisi destinasi yang kotor, semrawut, dan minim fasilitas dasar seperti tempat pembuangan sampah.
Nada serupa disampaikan Datoek Badren yang menilai Langkat semakin tertinggal akibat mentalitas birokrasi yang diduga sarat praktik korupsi dan kepentingan sempit.
Kritik ini memang keras, namun mencerminkan akumulasi kekecewaan publik yang sudah lama terpendam.
Sementara itu, komentar lain menyoroti persoalan klasik: pungutan liar, ketidaknyamanan wisatawan, serta minimnya perhatian terhadap kebersihan dan penataan kawasan wisata.

Masalah Utama: Bukan Potensi, Tapi Pengelolaan
Jika ditarik benang merah, persoalan pariwisata Langkat bukan terletak pada minimnya potensi, melainkan buruknya pengelolaan. Ini mencakup:
Infrastruktur yang tidak mendukung (jalan, listrik, fasilitas umum)
Minimnya event dan promosi berskala besar
Pengelolaan destinasi yang amburadul dan tidak standar
Dugaan kebocoran dan tidak transparannya retribusi
Tidak adanya roadmap pariwisata yang jelas dan berkelanjutan
Tanpa pembenahan serius, Langkat hanya akan menjadi “penonton” di tengah geliat pariwisata Sumatera Utara yang terus melaju.
Saran untuk Pemkab Langkat dan Disparbud
Kritik tanpa solusi adalah sia-sia. Karena itu, ada beberapa langkah konkret yang seharusnya segera dilakukan:
1. Benahi Infrastruktur Dasar
Jangan bicara pariwisata kelas dunia jika listrik masih padam dan akses jalan rusak. Koordinasi lintas OPD harus diperkuat.
2. Transparansi dan Digitalisasi Retribusi
Tutup celah kebocoran dengan sistem pembayaran digital dan audit berkala. Kepercayaan publik harus dipulihkan.
3. Penataan Destinasi Wisata
Tertibkan bangunan liar, sediakan fasilitas standar (toilet, tempat sampah, area parkir), dan jaga kebersihan secara konsisten.
4. Libatkan Pelaku Wisata Lokal

Jangan berjalan sendiri. Rangkul komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat lokal sebagai mitra strategis.
5. Ciptakan Event Rutin Berskala Nasional/Internasional
Bukit Lawang dan destinasi lain harus “hidup”, bukan hanya ramai saat musim liburan.
6. Evaluasi Kinerja Dinas Pariwisata
Jika perlu, lakukan pembenahan internal. Pariwisata butuh kepemimpinan yang progresif, bukan sekadar administratif.
Penutup
Langkat tidak kekurangan keindahan. Yang kurang adalah keseriusan mengelola.
Jika pemerintah daerah—khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan—masih abai, maka jangan heran jika Langkat terus tersisih.
Ini bukan sekadar soal pariwisata, tapi soal wajah daerah dan masa depan ekonomi masyarakatnya. Saatnya berhenti beralasan. Saatnya bekerja nyata.
PAD Pariwisata Langkat: Potensi Besar, Hasil Kecil
Jika dibandingkan dengan daerah lain, kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata Langkat masih jauh dari optimal.
Sebagai perbandingan:Kabupaten Samosir mampu menghasilkan PAD pariwisata hingga miliaran rupiah setiap tahun, bahkan mencapai lebih dari Rp5 miliar pada 2024.
Bahkan dalam hitungan hari libur, retribusi wisata Samosir bisa tembus miliaran rupiah.
Sementara Langkat—yang memiliki destinasi kelas internasional seperti Bukit Lawang—justru belum mampu menunjukkan capaian PAD yang signifikan dan transparan ke publik.
Ini menimbulkan pertanyaan besar:
ke mana sebenarnya potensi uang dari sektor wisata Langkat mengalir?
Kritik publik di media sosial bahkan secara terang menyinggung dugaan:
kebocoran retribusi pengelolaan oleh pihak ketiga yang tidak transparan
hingga minimnya kontribusi nyata ke kas daerah
Jika ini dibiarkan, maka pariwisata hanya menjadi “ladang ekonomi liar”, bukan sumber PAD yang sehat.
Saran untuk Pemkab Langkat
Jika tidak ingin terus tertinggal, ada langkah yang harus segera dilakukan—bukan sekadar wacana:
1. Audit Total Pengelolaan Pariwisata
Buka data PAD sektor wisata secara transparan. Jika ada kebocoran, segera tindak.
2. Benahi Infrastruktur Prioritas
Bukit Lawang sebagai destinasi internasional seharusnya jadi wajah utama—bukan malah dibiarkan dengan listrik bermasalah dan akses terbatas.
3. Hentikan Pola “Seremonial Tanpa Dampak”
Pariwisata bukan sekadar rapat dan kegiatan formal. Yang dibutuhkan adalah program nyata dan berkelanjutan.
4. Libatkan Pelaku Wisata Lokal
Mereka yang bertahan selama ini adalah aset. Jangan hanya dijadikan objek, tapi mitra.
5. Bangun Event Ikonik Langkat
Tanpa event besar, wisata akan mati. Langkat butuh kalender event tetap.
6. Perkuat Pengawasan di Lapangan
Hilangkan pungli, tata kawasan, dan pastikan wisatawan merasa aman dan nyaman.
Penutup: Langkat Tidak Kekurangan Alam, Tapi Kekurangan Keseriusan
Langkat memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi destinasi unggulan. Tapi tanpa pengelolaan yang benar, semua itu hanya akan menjadi potensi yang terpendam.
Fakta bahwa ratusan ribu wisatawan datang ke Sumut—namun tidak singgah ke Langkat—adalah tamparan keras.
Jika Disparbud dan Pemkab Langkat masih gagal membaca situasi ini, maka satu hal yang pasti:
Langkat akan terus tertinggal, bukan karena miskin potensi, tapi karena miskin pengelolaan.(Yong)


















