Foto : Trump Desak Iran Buka Selat Hormuz, Ancam Hancurkan Infrastruktur Jika Gagal Sepakat.(ist)
Washington – metrolangkat.com
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa kebebasan navigasi di Selat Hormuz harus menjadi bagian utama dalam kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Ia bahkan mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran jika kesepakatan tidak tercapai sebelum batas waktu Selasa (7/4).
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump menyebut pembicaraan dengan Iran sejauh ini berjalan positif, namun menekankan bahwa pembukaan kembali jalur strategis tersebut menjadi prioritas utama Washington.
“Kita harus memiliki kesepakatan yang dapat diterima, dan bagian dari kesepakatan itu adalah lalu lintas minyak harus bebas,” ujar Trump, dikutip dari Bloomberg.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Gangguan di kawasan ini telah memicu gejolak besar pada pasar energi global.
Trump juga mengungkapkan konsekuensi serius jika Iran tidak memenuhi tuntutan tersebut. Ia menyebut militer AS memiliki kemampuan untuk menghancurkan infrastruktur utama Iran dalam waktu singkat.
“Kami bisa menghancurkan setiap jembatan. Pembangkit listrik akan terbakar, meledak, dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi,” tegasnya.
Pernyataan itu memicu kekhawatiran internasional, mengingat serangan terhadap infrastruktur sipil dilarang dalam Konvensi Jenewa. Namun, Trump menyatakan tidak khawatir terhadap konsekuensi tersebut.
“Saya maksudkan penghancuran total dalam hitungan jam, jika kami menginginkannya. Tapi kami tidak ingin itu terjadi,” tambahnya.
Batas waktu yang ditetapkan Trump menandai fase krusial dalam konflik yang kini telah memasuki bulan kedua. Perang tersebut telah menewaskan ribuan orang serta memicu gangguan signifikan pada pasar minyak global.
Di dalam negeri, tekanan terhadap Trump juga meningkat. Harga bahan bakar di AS dilaporkan melampaui USD 4 per galon, memicu ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah dalam menangani konflik.
Sementara itu, Iran memperingatkan akan membalas setiap serangan terhadap infrastruktur sipil dengan meningkatkan serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk. Langkah ini berpotensi memperparah krisis energi global dan mengguncang perekonomian dunia.
Pernyataan terbaru Trump terkait Selat Hormuz juga dinilai bertolak belakang dengan sikap sebelumnya dari pemerintahannya. Pekan lalu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt tidak memasukkan pembukaan selat tersebut sebagai tujuan utama militer AS.
Ketegangan yang terus meningkat ini membuat dunia internasional kini menanti apakah jalur diplomasi masih mampu meredakan konflik, atau justru membawa kawasan menuju eskalasi yang lebih luas.(Int/red)


















