Foto : Status media sosial oknum Kades yang dinilai memprovokasi hingga menimbulkan kegaduhan dimasyarakat.(tangkapan fb)
Langkat – metrolangkat.com
Ketua Panitia IDCA Kabupaten Langkat, Muhammad Ihsan, S.Sos., M.Sos., menyampaikan kekecewaannya
Hal itu terkait pernyataan oknum Kepala Desa Paya Perupuk, Kecamatan Tanjung Pura, berinisial SR,
Melalui akun media sosialnya, oknum dimaksud membuat sebuah statment terkait pelaksanaan rangkaian perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Tanjung Pura.
Menurut Muhammad Ihsan, pernyataan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan memperkeruh suasana di tengah masyarakat,
khususnya mengenai pelaksanaan karnaval dan berbagai perlombaan dalam rangka memeriahkan HUT RI.
“Kami sebagai kepanitiaan ingin menegaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan merupakan bagian dari perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.
Karena ini adalah HUT RI, maka kebudayaan yang ditampilkan tidak hanya mewakili satu etnis atau satu daerah saja,
Melainkan menjadi ruang bagi keberagaman budaya yang ada di Indonesia,” ujar Muhammad Ihsan dalam Pers relisnya yang diterima Redaksi Metrolangkat.com, Rabu (19/8) malam.
Ia menjelaskan, jika kegiatan tersebut merupakan perayaan khusus HUT Kabupaten Langkat atau kegiatan yang secara khusus mengangkat identitas budaya Melayu Langkat, tentu konsep kebudayaan Melayu dapat menjadi fokus utama.
Namun, dalam konteks perayaan HUT RI, semangat yang diusung adalah persatuan dalam keberagaman Indonesia.
Muhammad Ihsan juga menegaskan bahwa keterlibatan pihaknya bersama anak muda dan pemudi Tanjung Pura pada prinsipnya adalah untuk mendukung Forkopimcam Kecamatan Tanjung Pura dalam menyukseskan rangkaian kegiatan 17 Agustus.
“Kami memahami kondisi saat ini, di mana pemerintah sedang melakukan efisiensi anggaran.
Karena itu, kami sebagai anak muda-mudi Tanjung Pura berupaya memberikan dukungan agar semangat kemerdekaan tetap dapat dirasakan masyarakat tanpa harus membebani anggaran secara berlebihan,” tegasnya.
Sementara itu, Muhammad Muklis, S.Pd., selaku Sekretaris Panitia, meminta Kepala Desa Paya Perupuk berinisial SR untuk memberikan klarifikasi secara terbuka terkait pernyataan yang telah disampaikan melalui media sosial.
Menurut Muhammad Muklis, permintaan tersebut disampaikan karena yang bersangkutan merupakan seorang kepala desa sekaligus publik figur yang memiliki pengaruh terhadap masyarakat.
Oleh karena itu, setiap pernyataan yang disampaikan di ruang publik diharapkan dapat dipertanggungjawabkan dan tidak menimbulkan persepsi maupun kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Kami meminta klarifikasi terbuka dari yang bersangkutan. Bukan untuk mencari persoalan atau memperpanjang perdebatan, tetapi karena beliau merupakan kepala desa sekaligus publik figur.
Kami ingin masyarakat mendapatkan penjelasan yang utuh agar tidak terjadi kesalahpahaman dan suasana yang sudah kondusif tidak menjadi keruh,” ujar Muhammad Muklis, S.Pd.
Ia menambahkan, pihak panitia terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat maupun pemerintah desa.
Namun, kritik tersebut diharapkan disampaikan secara konstruktif dan tidak menimbulkan kesan seolah-olah kegiatan HUT RI yang dilaksanakan oleh masyarakat dan didukung Forkopimcam merupakan kegiatan yang tidak memiliki semangat kebangsaan.
“Kami menghormati semua pihak, termasuk pemerintah desa. Tetapi kami juga meminta agar setiap pernyataan di media sosial dipertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat.
Kalau ada yang perlu diklarifikasi, mari kita dudukkan bersama secara terbuka dan kepala dingin,” tambahnya.
Panitia menegaskan bahwa kegiatan HUT RI di Tanjung Pura merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam memperingati kemerdekaan serta memperkuat persatuan, kebersamaan, dan keberagaman budaya Indonesia.
Pihak panitia berharap persoalan ini dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan tidak berkembang menjadi polemik berkepanjangan di tengah masyarakat.
Muhammad Ihsan, S.Sos., M.Sos. Ketua Panitia penyelenggara HUT RI ke 81 IDCA Kabupaten Langkat.
Muhammad Muklis, S.Pd. Sekretaris Panitia IDCA Kabupaten Langkat. “Berbeda budaya, satu Indonesia. Merdeka dalam persatuan.”.(Rel)


















