Foto : Vantony Huang yang menjadi korban Telkom. (Ist)
MEDAN – METROLANGKAT.COM
Keamanan ruang privasi dan data pribadi warga kembali menjadi sorotan tajam.
Vantony Huang, seorang warga yang juga pelanggan setia layanan telekomunikasi, mengungkapkan dugaan adanya praktik “peretasan terorganisir” yang diduga melibatkan oknum dari provider plat merah, Telkomsel dan Indihome.
Bukan sekadar masalah teknis biasa, Vantony yang tinggal di Kecamatan Tanjungpura, Kabupaten Langkat ini mengaku bahwa gangguan yang dialaminya telah mengarah pada upaya isolasi sosial dan perusakan mental keluarganya.
Modus Isolasi Digital: Akun Hilang, Akses Terputus
Vantony membeberkan kronologi yang sangat janggal mengenai hilangnya akun-akun digital milik istrinya.
Meski verifikasi akun menggunakan nomor Kartu Halo tanpa metode pemulihan lain, akun-akun tersebut justru lenyap tanpa jejak.
”Istri saya stres berat. Akun diverifikasi pakai nomor Kartu Halo, tapi bisa hilang semua.
Ini bukan sekadar eror, ini seperti ada akses ilegal dari dalam yang memanipulasi data kami,” ujar Vantony dengan nada getir.
Keresahan ini semakin memuncak saat jalur komunikasi dengan kuasa hukumnya (PH) pun diduga disabotase.
Secara misterius, nomor WhatsApp miliknya terhapus dan terblokir secara otomatis di ponsel sang pengacara, hingga menyulitkan koordinasi hukum yang sedang ditempuh.
Keluarga Terpukul, Anak Jalani Perawatan Psikis
Dampak dari dugaan peretasan ini tidak hanya menyerang perangkat gadget, tetapi juga menghancurkan ketenangan rumah tangga.
Vantony mengungkapkan bahwa anak laki-lakinya bahkan harus berkonsultasi ke dokter spesialis kejiwaan sejak tahun 2023 akibat teror digital yang tak kunjung usai.
”Ini sudah menyerang psikis keluarga kami. Anak saya harus ke dokter psikis karena masalah hacker ini.
Mereka seolah mau ‘mengkerangkeng’ jalur akses, relasi dagang, hingga merusak hubungan keluarga dengan menyebarkan fitnah negatif kepada saudara-saudara kami di Jakarta,” tambahnya.
Upaya Pembungkaman Kasus?
Vantony menduga kuat bahwa serangan digital yang masif ini merupakan upaya sistematis untuk membungkam dirinya setelah ia mengklaim menemukan bukti kesalahan oknum petugas di lapangan.
Dengan memutus akses komunikasi dan merusak reputasi di mata keluarga besar, ia merasa sedang diisolasi agar kasus ini tidak mencuat ke permukaan.
Ia pun meminta rekan-rekan media dan masyarakat untuk waspada jika menerima pesan janggal atas nama dirinya.
”Saya mohon kepada media dan teman-teman, bantu kami. Jika ada chat atau informasi aneh, tolong segera kabari.
Kami sedang dikepung secara digital agar kasus ini mandek,” tutupnya. (Wis)


















