Foto : Bagi Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, kemajuan sebuah kota justru harus dimulai dari terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat.(Ist)
MEDAN – metrolangkat.com
Membangun kota tidak selalu harus ditandai dengan berdirinya gedung-gedung megah. Bagi Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, kemajuan sebuah kota justru harus dimulai dari terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat.
Mulai dari jalan yang layak, drainase yang berfungsi, trotoar yang nyaman, pelayanan publik yang mudah diakses, hingga bantuan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
Arah pembangunan tersebut menjadi penegasan Rico Waas saat menerima audiensi Litbang Kompas di Balai Kota Medan, Kamis (5/11/2026).
“Saya membangun kota ini tidak gedung ke atas, tetapi membangun kebutuhan dasar masyarakat seperti jalan, drainase, trotoar, pelayanan publik dan mempertebal bantuan sosial bagi masyarakat,” tegas Rico.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan pendekatan pembangunan yang ingin diarahkan Pemerintah Kota Medan, yakni menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Infrastruktur Dikebut, Kemacetan Jadi Konsekuensi Sementara
Pembenahan infrastruktur menjadi salah satu pekerjaan besar yang tengah berlangsung di Kota Medan.
Sejumlah proyek strategis, mulai dari pembangunan Bus Rapid Transit (BRT), penataan trotoar hingga pembenahan drainase, terus dikerjakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas perkotaan.
Rico tidak menutup mata bahwa pembangunan dalam skala besar tersebut menimbulkan dampak sementara, terutama kemacetan lalu lintas dan gangguan mobilitas masyarakat.
Namun, menurutnya, konsekuensi tersebut harus dilihat sebagai bagian dari proses menuju kota yang lebih tertata dan memiliki infrastruktur memadai.
“Kota yang maju akan memajukan masyarakat sekaligus menarik lebih banyak investor ke Kota Medan,” ujarnya.
Pengaduan Warga Bakal Terintegrasi dengan AI
Tidak hanya membenahi infrastruktur fisik, Rico Waas juga mendorong transformasi pelayanan publik melalui pemanfaatan teknologi digital.
Salah satu inovasi yang disiapkan adalah sistem pengaduan masyarakat melalui WhatsApp (WA) berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Melalui sistem ini, laporan dan keluhan warga yang masuk melalui WhatsApp dirancang terintegrasi secara otomatis dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk segera ditindaklanjuti.
Inovasi tersebut diharapkan memangkas birokrasi pengaduan yang selama ini kerap menjadi kendala masyarakat ketika menyampaikan persoalan di lingkungan tempat tinggalnya.
Di sektor pendapatan daerah, Pemko Medan juga menerapkan digitalisasi perpajakan melalui sistem Qresto.
Sistem ini memungkinkan pemisahan dan pencatatan pajak makanan serta minuman di restoran secara real time, sehingga penerimaan pajak dapat langsung terpantau dan masuk ke kas daerah.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan transparansi, akuntabilitas, sekaligus mengoptimalkan pendapatan asli daerah (PAD).
31 Puskesmas Dibongkar dan Dibenahi
Sektor kesehatan juga menjadi perhatian serius dalam agenda pembenahan pelayanan dasar.
Rico mengungkapkan, Pemko Medan melakukan pembenahan terhadap 31 puskesmas. Dari jumlah tersebut, tiga puskesmas dibangun baru, sementara 28 lainnya menjalani renovasi total.
Pembenahan ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan tingkat pertama agar masyarakat memperoleh fasilitas kesehatan yang lebih baik tanpa harus selalu bertumpu pada rumah sakit.
“Ini untuk mengubah wajah pelayanan kesehatan dasar agar masyarakat tidak perlu selalu menumpuk di rumah sakit,” tambahnya.
Litbang Kompas Soroti Kepemimpinan dan Respons Publik
Dalam audiensi tersebut, Manajer Departemen Riset Sosial dan Kebudayaan Litbang Kompas Jakarta, Christian Marides Marpaung, menyampaikan hasil pengamatan serta pemantauan media sosial yang dilakukan selama satu bulan terakhir melalui program Survei Teropong Daerah.
Christian menjelaskan, pemantauan tersebut dilakukan untuk melihat efektivitas program Pemerintah Kota Medan sekaligus mengukur respons dan persepsi masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintah daerah.
Salah satu isu yang mendapat perhatian publik adalah aksi inspeksi mendadak (sidak) Wali Kota Medan di Kantor Lurah Dwikora serta ketegasannya dalam menegakkan disiplin aparatur sipil negara (ASN).
“Yang menjadi trending dan menarik perhatian publik luas adalah aksi sidak Wali Kota Medan di Kantor Lurah Dwikora serta ketegasannya dalam menegakkan disiplin aparatur sipil negara,” ungkap Christian.
Menurutnya, pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya Litbang Kompas memotret hubungan antara kebijakan pemerintah daerah dengan aspirasi masyarakat yang berkembang di ruang digital.
Audiensi ini turut dihadiri Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Medan Arrahmaan Pane, Kepala Brida Kota Medan Benny Iskandar, serta Kabag Prokopim Setda Kota Medan Arafat Syam.
Berbagai agenda pembenahan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pembangunan Kota Medan bukan hanya menghadirkan proyek fisik, tetapi juga memastikan pelayanan publik semakin cepat, transparan, dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.(wis)

















