Tantangan Pengembangan Energi Bersih di Negara Berkembang

- Jurnalis

Senin, 23 Februari 2026 - 15:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, METROLANGKAT.COM

Transisi energi global menuju sumber daya yang lebih bersih adalah agenda mendesak untuk menekan laju perubahan iklim. Namun, bagi negara-negara berkembang, perjalanan menuju energi terbarukan bukan sekadar mengganti panel surya atau kincir angin. Ada kompleksitas ekonomi, teknis, dan sosial yang menjadi penghalang besar.

Meskipun memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, seperti sinar matahari yang terik dan aliran sungai yang kuat, negara berkembang menghadapi dilema antara mengejar pertumbuhan ekonomi cepat atau melakukan investasi hijau yang mahal. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang harus dihadapi.

Hambatan Finansial dan Biaya Investasi Awal

Masalah paling klasik namun paling krusial adalah biaya modal. Pembangkit listrik tenaga fosil, seperti batu bara, seringkali memiliki biaya investasi awal yang lebih rendah dibandingkan teknologi energi bersih seperti panas bumi (geothermal) atau pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala besar.

Di negara berkembang, suku bunga pinjaman untuk proyek energi terbarukan cenderung lebih tinggi karena dianggap memiliki risiko investasi yang besar. Akibatnya, harga jual listrik per kWh dari energi bersih seringkali sulit bersaing dengan listrik yang dihasilkan dari bahan bakar fosil yang sudah memiliki infrastruktur mapan.

Infrastruktur Jaringan Listrik yang Usang

Banyak negara berkembang memiliki jaringan transmisi listrik (grid) yang belum modern. Energi bersih, khususnya angin dan surya, bersifat intermiten (tergantung cuaca dan waktu).

Untuk mengintegrasikan energi yang fluktuatif ini, dibutuhkan jaringan listrik pintar (Smart Grid) dan sistem penyimpanan energi berupa baterai berskala besar. Membangun atau meningkatkan infrastruktur grid ini memerlukan dana yang tidak sedikit, yang seringkali belum menjadi prioritas dalam anggaran negara.

Baca Juga :  Bupati Syah Afandin Pimpin Zikir Akbar 1447H, Momentum Perkuat Langkat Religius

Perbandingan Tantangan: Energi Fosil vs. Energi Bersih

Faktor Tantangan Energi Fosil (Existing) Energi Bersih (Baru)
Kesiapan Infrastruktur Sudah Mapan & Terintegrasi Memerlukan Upgrade Grid Besar
Stabilitas Pasokan Stabil (Baseload) Fluktuatif (Intermiten)
Dukungan Pendanaan Akses Kredit Lebih Mudah Risiko Investasi Dianggap Tinggi
Subsidi Pemerintah Masih Banyak Dinikmati Seringkali Masih Terbatas

Ketergantungan pada Subsidi Bahan Bakar Fosil

Di banyak negara berkembang, pemerintah memberikan subsidi besar-besaran untuk bahan bakar fosil demi menjaga harga energi tetap terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Secara politis, mencabut subsidi ini sangat berisiko karena dapat memicu inflasi.

Namun, keberadaan subsidi fosil ini menciptakan ketidakadilan pasar (level playing field). Energi bersih menjadi terlihat “mahal” bukan karena teknologinya tidak efisien, melainkan karena energi fosil tidak mencerminkan harga pasar yang sebenarnya serta tidak memasukkan biaya kerusakan lingkungan ke dalam harga jualnya.

Kurangnya Tenaga Ahli dan Transfer Teknologi

Pengembangan energi bersih membutuhkan keahlian teknis tingkat tinggi, mulai dari tahap perencanaan, instalasi, hingga pemeliharaan sistem yang kompleks. Sayangnya, kesenjangan kompetensi tenaga kerja di negara berkembang masih cukup lebar.

Negara-negara ini seringkali bergantung pada teknologi impor dari negara maju. Tanpa adanya kebijakan transfer teknologi yang efektif, negara berkembang akan terus menjadi konsumen teknologi alih-alih menjadi produsen, yang pada akhirnya membebani neraca perdagangan nasional.

Baca Juga :  Syah Afandin dan Anggota DPD RI Bahas Percepatan Program Makanan Bergizi Gratis di Langkat

Kerangka Regulasi yang Belum Stabil

Investasi energi bersih adalah investasi jangka panjang (20-25 tahun). Oleh karena itu, investor membutuhkan kepastian hukum.

Seringkali, perubahan kebijakan pemerintah atau regulasi yang tumpang tindih antara pemerintah pusat dan daerah menciptakan ketidakpastian. Tanpa aturan main yang jelas mengenai harga beli listrik (Feed-in Tariff) atau kemudahan perizinan, pemodal akan ragu untuk masuk.

Menghadapi tantangan di atas, kolaborasi internasional menjadi kunci. Negara maju harus memenuhi komitmen mereka dalam memberikan bantuan pendanaan iklim dan memfasilitasi transfer teknologi.

Di sisi lain, pemerintah di negara berkembang perlu mulai melakukan reformasi kebijakan secara bertahap, meningkatkan literasi energi masyarakat, dan membuka ruang bagi sektor swasta untuk berinovasi.

Pembangunan tidak harus mengorbankan lingkungan, dan energi bersih tidak seharusnya hanya menjadi kemewahan bagi negara kaya. Dengan strategi yang tepat, tantangan-tantangan ini bisa diubah menjadi peluang pertumbuhan ekonomi baru yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Karena inilah PGN LNG Indonesia hadir dan ikut berkontribusi dalam proses transisi energi demi bisa menghadirkan solusi energi yang rendah emisi lebih dapat diandalkan di masa depan. Sehingga, program energi bersih bisa diwujudkan oleh negara dan semua masyarakat bisa menikmatinya.

Follow WhatsApp Channel www.metrolangkat.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tiorita Gerak Cepat, Bawa Keluhan Warga ke Gubernur: Jalur Langkat-Karo Diperbaiki Oktober 2026
Dari Medan ke Jakarta, Nikmat Harahap Buktikan Anak Rantau Bisa Menulis Mimpi Jadi Nyata
Plt. Bupati Langkat Tiorita Gebrak Penertiban Aset, Seluruh Kendaraan Dinas Diperiksa
PT Sutera Morosi Kharisma, Tumbuh Bersama Potensi Sumba NTT
Solusi Material Ringan untuk Proyek Konstruksi Modern –  Geofoam Pandu Equator
Jaminan Keaslian Produk Lewat Standar ISO Oli Industri
Penggunaan Traktor Kubota Meningkat, Bina Pertiwi Pastikan Ketersediaan Unit dan Suku Cadang
Tiorita Br Surbakti: Ketika Seorang Ibu Memikul Amanah Satu Juta Harapan Langkat
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 12:35 WIB

Tiorita Gerak Cepat, Bawa Keluhan Warga ke Gubernur: Jalur Langkat-Karo Diperbaiki Oktober 2026

Kamis, 10 September 2026 - 11:23 WIB

Dari Medan ke Jakarta, Nikmat Harahap Buktikan Anak Rantau Bisa Menulis Mimpi Jadi Nyata

Rabu, 9 September 2026 - 09:53 WIB

Plt. Bupati Langkat Tiorita Gebrak Penertiban Aset, Seluruh Kendaraan Dinas Diperiksa

Senin, 7 September 2026 - 17:49 WIB

PT Sutera Morosi Kharisma, Tumbuh Bersama Potensi Sumba NTT

Senin, 7 September 2026 - 10:29 WIB

Solusi Material Ringan untuk Proyek Konstruksi Modern –  Geofoam Pandu Equator

Berita Terbaru

Pendidikan

Abdul Mu’ti dan Rico Waas Senam Bersama Siswa SMPN 1 Medan

Senin, 14 Sep 2026 - 18:28 WIB

Pemerintahan

Taat Bayar PBB-P2 Rp11,95 Miliar, Tiorita Apresiasi Pertamina

Senin, 14 Sep 2026 - 17:42 WIB