Coretan : Yong Ganas
Langkat –metrolangkat.com
Mundurnya Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat, Ilhamsyah Bangun, menuai beragam tafsir.
Ada yang menyebut keputusan itu sebagai langkah paling aman. Ada pula yang menyesalkan.
Sebab, bagi sebagian kalangan, hari itu bukan sekadar pengunduran diri, melainkan seperti menutup satu bab penting dalam perjalanan karier seorang birokrat.
Seorang pejabat senior di Langkat pernah melontarkan ilustrasi yang menarik.
“Lihatlah bangun segitiga (△). Kelihatannya hanya satu bentuk. Padahal, jika diamati lebih dalam,
di balik satu bentuk itu bisa muncul dua, tiga, bahkan lebih banyak bentuk yang tersembunyi.”
Kalimat sederhana itu seolah mengingatkan bahwa dalam birokrasi, tidak semua keputusan bisa dibaca dari permukaannya.
Ada sisi yang tampak, ada pula sisi yang hanya dipahami oleh mereka yang berada di dalam lingkaran.
Di tengah suhu politik Langkat yang sedang menghangat, keputusan seorang birokrat senior untuk mundur tentu memancing banyak tafsir.
Ada yang mengibaratkannya seperti seorang prajurit yang memilih tiarap ketika dentuman mortir mulai terdengar.
Bukan karena takut bertempur, melainkan agar tetap hidup untuk pertempuran berikutnya.
Dalam dunia birokrasi, mundur tidak selalu identik dengan menyerah. Kadang justru menjadi cara menyelamatkan integritas, menjaga loyalitas, atau sekadar memilih waktu yang tepat.
Semua memang ada saatnya. Ada saatnya berdiri di depan. Ada saatnya melangkah. Ada saatnya menepi. Bahkan ada saatnya mundur.
Namun, saya melihat pengunduran diri Ilhamsyah Bangun dari sudut yang berbeda.
Bayangkan sebuah hajatan besar. Tenda sudah berdiri. Undangan mulai berdatangan.
Di dapur, kepala tukang masak sudah bekerja sejak pagi. Beras sudah ditanak. Rendang mulai empuk. Gulai sedang mendidih. Ikan sudah masuk penggorengan.
Tiba-tiba…
Kepala tukang masak melepas celemeknya, meletakkan sendok sayur, lalu pamit pulang.
Masalahnya bukan karena ia pulang. Semua orang tentu punya alasan yang harus dihormati.
Yang menjadi persoalan, siapa yang akan melanjutkan masakan yang belum matang?
Dalam konteks Dinas Pendidikan, “masakan” itu bukan nasi atau rendang. Melainkan sederet pekerjaan besar yang sedang berjalan.
Mulai dari rencana pelantikan ratusan kepala sekolah, proses berbagai program pendidikan, hingga paket-paket proyek yang akan memasuki tahapan pelaksanaan.
Semua itu membutuhkan nakhoda.
Ketika nahkoda turun di tengah pelayaran, siapa yang memegang kemudi?
Di sinilah posisi Pelaksana Tugas Bupati Langkat, Tiorita Br Surbakti, menjadi tidak ringan.
Apa pun alasan pengunduran diri itu, beban administrasi dan pelayanan publik kini berpindah ke pundaknya.
Ia harus memastikan roda organisasi tetap berjalan, tanpa membuat pelayanan pendidikan terganggu.
Di luar sana, berbagai spekulasi bermunculan. Ada yang menghubungkan pengunduran diri ini dengan tekanan politik.
Ada pula yang menganggap alasan pribadi yang disampaikan hanyalah kebetulan yang muncul di waktu yang sensitif.
Semua itu adalah asumsi yang berkembang di ruang publik dan belum tentu mencerminkan fakta.
Yang pasti, seorang kepala dinas telah meninggalkan kursinya ketika masih banyak pekerjaan yang menunggu penyelesaian.
Kini, masyarakat menunggu satu hal yang lebih penting daripada segala rumor.
Siapa yang akan melanjutkan masakan di dapur itu?
Karena masyarakat tidak terlalu peduli siapa kokinya. Yang mereka tunggu adalah hidangannya benar-benar matang, layak disantap, dan tidak gosong sebelum sampai ke meja.(YG)


















