LANGKAT – metrolangkat.com
Suasana haru mewarnai pengukuhan Pengurus Daerah Matahari Pagi Indonesia (PD-MPI) Kabupaten Langkat masa bakti 2026–2031 di Jentera Malay, Rumah Dinas Bupati Langkat, Sabtu (1/8/2026).
Ketua DPRD Langkat, Sribana Perangin-angin, tak kuasa membendung air mata saat dipercaya memimpin organisasi sosial tersebut. Baginya, amanah itu bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab untuk menghadirkan kepedulian dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Ini bukan kehormatan pribadi, tetapi amanah untuk bekerja dan melayani masyarakat,” ucap Sribana dengan suara bergetar.
Pengukuhan dilakukan Pengurus Wilayah Matahari Pagi Indonesia Sumatera Utara berdasarkan Surat Keputusan Nomor 028/SK/DPW-MPI/SU/VII/2026. Prosesi tersebut disaksikan Ketua Majelis Pertimbangan Pengurus Besar MPI yang juga Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak.
Dalam kepengurusan periode 2026–2031, Sribana didampingi Herman Sukendar sebagai sekretaris dan dr. Roby Rezeki sebagai bendahara.
Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Langkat, Tiorita Br. Surbakti, dalam sambutannya mengingatkan agar MPI tidak berhenti sebagai organisasi seremonial. Kehadirannya harus benar-benar dirasakan masyarakat melalui program sosial, pendidikan, kesehatan, dan kegiatan kemanusiaan.
“Jalankan amanah ini dengan penuh tanggung jawab, keikhlasan, dan dedikasi. Pemkab Langkat siap memperkuat kolaborasi demi mewujudkan masyarakat yang maju, sejahtera, dan berdaya saing,” ujar Tiorita.
Ia juga mengajak seluruh pengurus MPI menjadi pelopor dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan kepedulian sosial sehingga organisasi tersebut mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Berawal dari Kepedulian terhadap Sesama
Sementara itu, Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa Matahari Pagi Indonesia lahir dari semangat membantu sesama, bukan untuk mengejar popularitas maupun kepentingan politik.
Ia menceritakan awal gerakan tersebut ketika membantu seorang pengemudi Grab yang kehilangan kaki. Melalui bantuan kaki palsu, diharapkan pengemudi itu dapat kembali menjalani kehidupannya dengan lebih baik.
“Awal lahirnya Matahari Pagi, ada seorang sopir Grab yang putus kakinya. Kami hadir membantu memasangkan kaki palsu agar ia bisa kembali menjalani hidup. Itulah Matahari Pagi,” tutur Dahnil.
Ia juga mengenang aksi memperbaiki toilet sekolah yang kondisinya memprihatinkan hingga membuat para siswa enggan menggunakannya.
“Ada anak-anak sekolah yang tidak mau masuk ke WC sekolahnya karena kondisinya memprihatinkan. Kami datang memperbaikinya. Itulah Matahari Pagi,” katanya.
Menurut Dahnil, MPI kini berkembang dari gerakan politik menjadi gerakan kebudayaan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat. Nilai sebuah organisasi, katanya, ditentukan oleh integritas, keikhlasan, dan kesungguhannya dalam melayani.
Ketua PW-MPI Sumatera Utara, dr. Donal Anjar Simanjuntak, berharap pengurus baru MPI Langkat segera menyusun program kerja yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata dan terukur.
Kursi Roda dan Sembako untuk Masyarakat
Komitmen kemanusiaan itu turut diwujudkan melalui penyerahan lima unit kursi roda kepada penyandang disabilitas dan paket sembako kepada masyarakat.
Pengurus Besar MPI juga menyerahkan plakat kepada PD-MPI Kabupaten Langkat sebagai simbol dimulainya masa bakti kepengurusan 2026–2031.
Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forkopimda Langkat, Sekretaris Daerah Langkat H. Amril, anggota DPRD, jajaran Kementerian Agama, Ketua MUI Langkat, Ketua Baznas Langkat, kepala perangkat daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta undangan lainnya.
Pengukuhan ini menjadi momentum bagi MPI Langkat untuk membuktikan bahwa organisasi bukan sekadar wadah kepengurusan, melainkan ruang pengabdian yang menghadirkan manfaat, kepedulian, dan harapan bagi masyarakat.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan sebuah organisasi bukan diukur dari megahnya pelantikan, melainkan dari seberapa banyak masyarakat yang terbantu oleh kehadirannya. (wis)

















