“Patih Cekgu di Negeri Kelayau: Ketika Menjilat Lebih Berharga daripada Kompetensi”

- Jurnalis

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Sosok yang ada dipoto hanya ilustrasi melengkapi tulisan.(Ai)

Oleh: Yong Ganas (Tokoh Imajiner)

Di sebuah kerajaan, kemajuan tidak pernah ditentukan oleh megahnya istana atau banyaknya pejabat yang mengelilingi singgasana.

Kemajuan hanya lahir ketika setiap jabatan diisi oleh orang yang tepat, sesuai kemampuan dan bidang keahliannya.

Sebaliknya, ketika kekuasaan dibangun atas dasar kedekatan, hubungan keluarga, dan kepentingan politik, maka yang lahir hanyalah pemerintahan yang rapuh di balik gemerlap seremoni.

Begitulah gambaran yang kini menjadi perbincangan di Negeri Kelayau.

Seorang Patih dipercaya merangkap dua jabatan sekaligus.

Di satu sisi ia menjabat sebagai Menteri Pembangunan Perumahan dan Permukiman Rakyat,di sisi lain juga memangku jabatan sebagai Pelaksana Tugas Demang di salah satu kecamatan.

Dua jabatan yang sama-sama membutuhkan perhatian penuh justru dipikul oleh satu orang.

Konon, sejak menyandang dua jabatan itu, sang Patih semakin membusungkan dada.

Apalagi ia memiliki hubungan keluarga dengan Ketua Dewan Kerajaan.

Nama besar sang besan kerap dijadikan tameng di hadapan para pejabat kecil sehingga menimbulkan kesan seolah dirinya kebal terhadap kritik dan evaluasi.

Yang menjadi pertanyaan rakyat bukan semata-mata soal rangkap jabatan.

Yang lebih mengusik adalah apakah ia memang sosok yang layak menempati posisi tersebut.

Baca Juga :  Negeri Kelayau dan Raja Kejab Boh: Hikayat Sebuah Kekuasaan

Latar belakang pendidikannya adalah seorang cekgu atau pendidik. Profesi itu tentu sangat mulia.

Namun menjadi guru tidak serta-merta memiliki kemampuan memimpin pemerintahan wilayah, maupun mengelola pembangunan perumahan dan kawasan permukiman yang membutuhkan pengetahuan teknis, tata ruang, administrasi pemerintahan, hingga perencanaan pembangunan.

Kini masyarakat Negeri Kelayau kembali dibuat geleng kepala.

Mengapa seorang cekgu justru dipercaya mengurus pembangunan rumah rakyat sekaligus memimpin pemerintahan kecamatan?

Apakah kerajaan benar-benar sudah kehabisan orang yang lebih kompeten di bidang tersebut?

Menurut Yong Ganas, kondisi ini merupakan potret buruk tata kelola pemerintahan.

“Kerajaan tidak boleh dijalankan berdasarkan siapa yang dekat dengan penguasa atau siapa yang memiliki keluarga di lingkaran istana.

Kerajaan harus dipimpin oleh orang yang tepat di tempat yang tepat. Jika prinsip itu diabaikan, maka yang menjadi korban adalah rakyat.”

Yong Ganas menilai rangkap jabatan bukanlah sebuah prestasi, melainkan potensi lahirnya konflik kepentingan dan buruknya pelayanan kepada masyarakat.

“Mustahil seseorang mampu membagi perhatian secara maksimal pada dua jabatan strategis sekaligus.

Yang terjadi biasanya salah satunya terbengkalai, atau bahkan keduanya tidak berjalan sebagaimana mestinya.”

Di berbagai sudut Negeri Kelayau, keraguan masyarakat semakin menguat. Banyak yang menilai keputusan Kerajaan lebih mengedepankan kedekatan daripada kompetensi.

Baca Juga :  Mimpi Buruk Sang Calon Raja Negeri Kelayau

Lebih memprihatinkan lagi apabila budaya menjilat penguasa justru menjadi jalan tercepat memperoleh kekuasaan.

Dalam pemerintahan yang sehat, yang dihargai seharusnya adalah prestasi dan kapasitas, bukan kepiawaian mencari muka.

Yong Ganas mengingatkan, sejarah mencatat banyak kerajaan runtuh bukan karena kekurangan pejabat, melainkan karena terlalu banyak pejabat yang salah ditempatkan.

“Ratu Kurmil tentu ingin kerajaannya maju. Namun kemajuan tidak akan lahir apabila orang-orang yang mengelilingi singgasana dipilih bukan karena kemampuan,

Melainkan karena hubungan keluarga atau kepandaian menjilat. Pada akhirnya, rakyatlah yang akan menanggung akibat dari setiap kesalahan kebijakan.”

Di mata rakyat, jabatan bukanlah mahkota yang bisa dipakai sebanyak mungkin. Jabatan adalah amanah yang menuntut kompetensi, integritas, dan tanggung jawab.

Bila pejabat yang kemampuannya lebih dikenal karena menjilat daripada bekerja terus diberi ruang menguasai banyak jabatan,

Maka Kerajaan Kelayau lambat laun akan berjalan pincang. Dan jangan harapkan kesejahteraan.

Dan jika itu terjadi, sejarah akan mencatat bahwa kemunduran sebuah kerajaan bukan disebabkan musuh dari luar, melainkan oleh kesalahan penguasanya sendiri dalam memilih orang-orang kepercayaan.(bersambung)

Follow WhatsApp Channel www.metrolangkat.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jalan Mulus ke Villa Ratu di Tengah Duka Masyarakat
Ketika Cekgu Jadi Ahli Beton, Mengukur Jalan Dengan Pengaris
Wartawan “Rinso”: Saat Pena Tak Lagi Mencuci Kebenaran
Smart Board Rp50 Miliar, Siapa Otak di Balik Proyek Gila Ini 
“BUMD Langkat Dibajak? Publik Dipaksa Telan Proses Busuk”
Editorial Yong Ganas : Vonis Bebas Untuk Eka Depari…..
Editorial Yong Ganas : “Mimpi Aidil Ilham Lubis: Anak Bangsa yang Ingin Melawan Kutukan Orang Dalam”
Negeri Kelayau dan Raja Kejab Boh: Hikayat Sebuah Kekuasaan
Berita ini 41 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:49 WIB

“Patih Cekgu di Negeri Kelayau: Ketika Menjilat Lebih Berharga daripada Kompetensi”

Sabtu, 7 Februari 2026 - 10:26 WIB

Jalan Mulus ke Villa Ratu di Tengah Duka Masyarakat

Kamis, 25 Desember 2025 - 20:32 WIB

Ketika Cekgu Jadi Ahli Beton, Mengukur Jalan Dengan Pengaris

Minggu, 19 Oktober 2025 - 19:17 WIB

Wartawan “Rinso”: Saat Pena Tak Lagi Mencuci Kebenaran

Sabtu, 13 September 2025 - 12:02 WIB

Smart Board Rp50 Miliar, Siapa Otak di Balik Proyek Gila Ini 

Berita Terbaru